Di malam Senin ini, aku bersama 5 orang temanku sepakat untuk berkerja kelompok di rumahku pada pukul 18.00 sehabis shalat maghrib, karena rumahku cukup luas dibandingkan dengan yang lain. Karena sekarang waktu masih menunjukan pukul 16.00, aku menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari makanan ringan, minuman, dan juga pelajaran yang akan kita pelajari nanti.
Akhirnya saat yang di tunggu-tunggupun tiba. Semua temanku yang tadi di undang datang kecuali Ion, katanya dia belajar di rumah saja. Pelajarannya pun di mulai dan yang menjadi guru adalah kakakku, walaupun dia masih muda, dia sudah menjadi menjadi dosen di universitas.
Setelah selesai, teman-temanku berpamitan untuk pulang. Sebagian dari mereka pulang sendiri tetapi kebanyakan dari mereka pualag di jemput oleh orang tua mereka masing-masing, mungkin itu karena rumah mereka agak jauh dari rumahku. Walaupun kerja kelompoknya sudah lama selesai, aku tetap belajar dengan mengulang kembali pelajaran di sekolah. Pukul 23.00 aku mulai mengantuk, aku pikir ini sudah saatnya aku tidur. Lagipula semua kegiatan hari ini membuatku merasa sangat lelah.
Pagi ini aku terbangun dengan ketukan di pintu kamarku, ternyata itu ibuku yang memberitahukan kalau temanku Modi, sudah berada di depan rumah. Aku terkejut saat melihat jam, ternyata waktu masih menunjukan pukul 05.30.
“kenapa Modi datang pagi-pagi begini?”, aku berkata dalam hati. Aku segera bergegas agar tidak di tinggal oleh Modi. Perjalananpun di mulai, aku dan Modi berangkat dengan hati yang gembira.
Tidak terasa kami sudah ada di depan sekolah. Di sana, aku membuka buku untuk menghafal kembali, karena hari ini adalah ulangan bagi murid kelas 8 F. Ketika aku mencari buku di tas, ternyata isi tas tersebut kosong dan tidak ada sama sekali, tentu saja aku bingung.
“KENAPA ISI TASKU KOSONG?”, aku berteriak histeris. Aku mencari di sepanjang jalan yang aku lewati tadi, untung saja aku datang sangat pagi ke sekolah. Aku cari-cari buku itu, tetap saja tidak ketemu . Akupun bertambah bingung bercampur kesal dan marah. Akhirnya mau tidak mau akupun pulang. Dengan sedih aku pulang dan di temani Modi, sahabatku yang paling setia dan Ray, teman sebangkuku. Tetapi mereka seperti berbisik dan aku hanya mendengar ucapan Modi saja,”Ray, si Tria kasian ya, masa bukunya yang bertumpuk-tumpuk itu hilang?”.
Setelah sampai di rumah aku kaget dan keheranan, karena buku yang selama itu di cari ternyata tergeletak begitu saja dimeja belajarku. Aku lupa kalau semalam aku belajar, tapi buku pelajarannya tidak di masukkan ke dalam tas. Aku tertawa bersama Modi dan Ray, Ray yang tadinya pendiam jadi ikut tertawa terbahak-bahak.
Kami langsung menuju sekolah sesaat sebelum bel berbunyi dan kamipun mulai belajar. Aku sangat lega telah menemukan bukuku yang hilang, atau lebih tepatnya TERTINGGAL.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment